Tumpik
wetiartika · 2 months ago
Text
Dulu, ada seorang teman yang datang bercerita ke saya. Hasil dari tidak pernah bertemu selama hampir 3 tahun, juga beberapa pesan kami ke satu sama lain "tenggelam" atau beberapa "missed call" yang membuat kami berjarak sedemikian rupa. Akumulasi dari semua itu adalah setengah hari saya mendengarkan keluh kesahnya, kekhawatirannya, serta bagaimana ia bertahan hidup. Tahukah kamu apa yang membuat saya cukup kehilangan kata-kata? Kalimat ini:
"Kalau melihat ke sekitar rasanya sudah menyesakkan, bising, melelahkan, merepotkan dan menciptakan sesuatu yang tidak menyamankan, lihat ke langit entah saat itu warnanya biru atau abu, mendung atau cerah, bahwa masalah kita sungguh hanya setitik kecil dari luasnya dunia ini. Maka, bertahanlah dan bersabarlah sedikit lagi. Allah tidak mungkin membiarkan kita kelelahan sendirian."
Saya tertegun, membenarkan mantra yang dirapalkan oleh kawan saya ini.
"Itu nasihat darimu, salah satu kalimat yang membuatku bisa bertahan hingga hari ini.." Katanya sambil menatap saya lekat.
Saya menyesap segelas es jeruk yang terkesan hambar sebenarnya, untuk mengusir haru yang menyelimuti kami.
-wetiartika-
5 notes · View notes
wetiartika · 2 months ago
Text
Belakangan saya memperhatikan orang-orang terdekat yang tersenyum manis atau tertawa ketika berbicara ke saya, sesederhana saya menceritakan hal remeh yang mungkin sebenarnya tidak lucu atau menghibur sama sekali. Atau ketika melihat betapa menyenangkan melihat tatapan bahagia mereka ke saya saat saya berhasil melakukan sesuatu. Atau saat saya memperhatikan bagaimana tatap mereka saat saya sedang membicarakan sesuatu.
Tentu saja mereka juga lelah. Pasti mereka juga tengah menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan. Bisa jadi mereka juga sebenarnya sedang tidak ingin melakukan apapun selain beristirahat. Tetapi untuk saya, Allah memberikan keluangan waktu agar mereka bisa membersamai saya.
Saat itu, saya berpikir untuk tidak ingin menukarkan kebahagiaan ini dengan apapun. Melihat senyum, tawa dan tatapan sayang mereka, saya sangat bersyukur Allah memberikan nikmat ini untuk saya.
Saya sangat mencintai mereka.
0 notes
wetiartika · 2 months ago
Text
Semakin ke sini, menuju 27 seperti hanya aksesoris yang dibawa kesana kemari selama 365 hari. Aksesoris yang menjadi penanda bahwa hidup yang dijalani selama ini, bekal yang disiapkan selama ini, masih terlalu tipis untuk menjadi benang merah pada pertanyaan: Sebenarnya apa yang sedang dicari?
Aksesoris ini masih membuatku ragu apakah mampu menjadi cukup untuk orang lain, maaf, karena sebenarnya aku tidak pernah merasa pantas, tidak pernah merasa cukup baik, sekeras apapun usahaku belajar untuk mendekati kata "pantas" itu sendiri.
Aku seringnya merasa kalah. Ya maaf jika aku lemah, cengeng dan terkesan merawat kekalahanku. Maaf ternyata jatuh bangunku selama ini masih tidak cukup untuk membuatku terlihat kuat dan mampu. Barangkali memang seperti itu sudut pandang orang lain ketika menatapku, sekeras apapun usahaku untuk menjadi sekuat-kuatnya manusia.
Pada akhirnya aku akan selalu menganggap diriku kalah ketika aku sudah berusaha yang terbaik versiku. Barangkali, usaha orang lain memang lebih keras dariku. Barangkali, jatah gagal ini memang masih tersisa untukku. Ya maaf, aku sungguh meminta maaf atas semua kalah, lelah dan lemahku..
Aku ragu pada semua ini, sekaligus penasaran pada bagaimana ini semua akan berakhir. Harapku satu; ... ......... .... ......... ... ........ .... ....... ..... .......... .......
0 notes
wetiartika · 3 months ago
Text
Ketika memutuskan untuk mengatakan "ya" pada sesuatu, mohon jangan lupakan konsekuensi dari sepotong kata tersebut.
"ya" berarti siap menerima keadaan; pahitnya, senangnya, luka karenanya, kecewa yang ditimbulkannya serta permasalahan yang dipercikkan darinya.
"ya" berarti memaklumi hal-hal yang tidak pernah dibayangkan akan terjadi, meredam marah dan menyelami sudut pandangnya, memeluk kekurangannya.
"ya" berarti merawatnya dan mendukungnya bertumbuh, mengoreksi beberapa yang salah ketika ia luput menyadarinya dan mendiskusikan alih-alih mendiktenya.
"ya" adalah sesekali yang penuh kebahagiaan, sesekali diwarnai perselisihan, sesekali dihujani penyesalan.
Ketika memutuskan untuk mengatakan "ya" pada sesuatu, mohon hormati dan jaga keputusan itu. Sebaik kamu menjaga dirimu sendiri. Sebab, menerima tidak semudah dan sesederhana itu.
-wetiartika-
3 notes · View notes
wetiartika · 3 months ago
Text
Hei,
Sesekali sih tidak apa-apa untuk bilang "nggak apa-apa" sambil senyum pura-pura kuat dan berlagak bisa menaklukkan kejamnya dunia.
Pun sebenarnya ketenangan itu cuma di permukaan, jauh di dalamnya, kepalamu riuh oleh bising yang minta ditenangkan, perih yang menunggu diobati dan ada pula tumpukan kepergian yang menanti untuk diikhlaskan.
Sayangnya, selalu mengatakan bahwa dirimu baik-baik saja (padahal kamu patah, rapuh dan hancur) justru membuatmu terluka semakin dalam. Kamu akan merasa tidak ada yang mampu menenangkan badaimu. Kamu merasa sendirian, dan begitu banyak prasangka yang membuatmu semakin lemah.
Kamu sedang lelah, bingung, merasa sepi dan tidak tahu harus memulai dari mana.
Sayang,
Mata seseorang itu tidak bisa berbohong. Mau sekeras apapun kamu berusaha tegar, selebar apapun senyummu, tatapmu tidak pandai menipu orang lain. Pun sama, jika kamu mendengar orang terdekatmu mengatakan "aku tidak apa-apa" padahal sebaliknya. Tolong katakan padanya,
"Aku tidak tahu apa yang sedang membuatmu bersedih, tetapi aku bisa menunggu kamu bercerita.."
Sayang,
Ada kok orang-orang yang sebenarnya akan dengan sangat senang mendengar ceritamu, bersedia memelukmu hangat, menepuk pundakmu yang letih atau sekedar mengelus kepalamu berharap risaumu berguguran satu persatu. Ada, pasti ada.
Sayang,
Tidak setiap cerita yang dibagi itu menjadi beban bagi orang lain. Maaf jika hingga hari ini kamu merasa belum menemukan telinga yang tepat untuk mendengar kesahmu. Jika saat ini belum ada, ambil wudhu dan mengadulah kepada Allah. Jika saat ini sedang tidak bisa, ambil kertas dan buku, tulislah. :)
Sakit, sedih dan terluka juga adalah bagian dari perasaan dan semua perasaan itu valid.
Kuat ya, kuat..
Kamu pasti bisa.
Terima kasih banyak sudah bertahan hingga kamu ada di hari ini.
Kamu tidak sendiri. Kamu disayangi banyak orang. Tidak ada yang menuntut kamu untuk selalu menjadi kuat, sempurna atau harus selalu bahagia.
-wetiartika-
Juni, 2022
0 notes
wetiartika · 4 months ago
Photo
Tumblr media
Beberapa hari lalu dalam perjalanan pulang ke rumah, saya berkata lirih dalam hati “Ya Allah, mohon bantu pertemukan hamba dengan orang yang membutuhkan makanan..”
Di atas motor saya memperhatikan orang-orang di pinggir jalan, hingga kemudian saya melihat seorang bapak yang sedang duduk lesu dengan memegang wadah besar khas memungut sampah..
Saya putar balik menuju beliau, saya amati beliau dari belakang. Tidak memakai alas kaki dan kulit yang terlihat terbakar sinar matahari. Mata saya berkaca-kaca, tidak sanggup memandang raut wajah beliau yang keletihan.
Saya kemudian melanjutkan perjalanan dan detik itu ingin sekali rasanya bisa membantu banyak orang.. Saya merenung; “Bukankah Allah Maha Penyayang, bukankah Allah Maha Kaya, bukankah sangat mudah bagi Allah untuk membantu hamba-hambaNya yang kesulitan seperti bapak itu..”
Kalau saya “manusia-biasa” (saja) ingin membantu, apalagi Allah Yang Maha Pengasih..
Kemudian saya teringat QS. Al Baqarah ayat 155-157,
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
  —————————————-
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”
Siapa yang tidak pernah merasa takut atau kekurangan? Bahkan mudah sekali bagi Allah memberikan rasa takut kepada manusia. Tapi ternyata.. Allah Memberi rasa ketakutan, agar manusia belajar sabar, agar memperoleh ampunan dan rahmat.
Dan barangkali dengan kesabaran tersebut dapat menjadi jalan surga kita.. Kita tidak pernah tau, tapi Allah Maha Tahu..
 —————————————-
“Sesungguhnya kami milik Allah”
Dan barangkali yang kadang tidak kita sadari, bahwa kita ini milik-Nya Allah.. kita ini Milik Dzat Yang Maha Baik, Maha Penyayang.. 
Maka tidak mungkin sang Pemilik mendzalimi hambaNya, setiap yang ada pada diri kita adalah bentuk kasih sayang-Nya.
Allah sedang mendidik untuk sabar, agar kita semua memperoleh kabar gembira di hari akhir nanti.. agar kita memperoleh ampunan dan rahmat-Nya.
Bukankah kita pernah melihat sederetan toko yang menjual barang yang sama bahkan hingga bertahan belasan tahun? Saya sering melewati sederetan kios-kios penjahit di dekat UGM. Bahkan sejak saya sekolah, kuliah, hingga saat ini bekerja, kios-kios itu masih tetap ada.
Setiap lewat, saya membayangkan betapa Maha Baiknya Allah karena mengatur rezeki setiap penjahit di kios dengan sangat rapih. Masing-masing penjahit setiap hari didatangi customer yang telah Allah gerakkan hatinya untuk menjahit di kios A, atau kios B, atau kios C. Semuanya Allah Yang Mengatur sehingga ada rezeki masing-masing..
Barangkali seperti itu juga rezeki kita.. rezeki yang berupa keluarga, sekolah, kampus, pasangan, pekerjaan, tempat tinggal, dsb. Allah pasti telah mengaturnya dengan sangaaat rapih, tidak ada kebetulan. Allah gerakkan hati kita menuju takdir kita masing-masing..
Maka tugas kita hanya memastikan agar setiap ikhtiar yang sedang dijalani saat ini terus diniatkan untuk meraih ridha Allah.
Maka semoga hati dan jiwa kita akan senantiasa tenang dan ridha, karena memahami bahwa segala yang hadir dalam hidup ini adalah bentuk kasih sayang Allah..
Duhai Allah Yang Maha Baik, terima kasih ya..
terima kasih banyak.. :”
1 Sya’ban 1442 H,
Bismillah, 30 hari menuju Ramadhan. 
12 notes · View notes
wetiartika · 4 months ago
Text
Am i being annoying?
0 notes
wetiartika · 4 months ago
Text
Mencintai adalah kata kerja yang memiliki beragam makna, namun jika dikerucutkan, ketika memutuskan untuk mencintai berarti membagi diri, waktu, pemahaman, maaf, dan kasih yang tak perlu ditakar kuantitasnya kepada orang lain.
Sebab ketika kata kerja berpadu dengan perasaan, perhitungan dinihilkan. Maka, ketika mencintai. Cintailah dengan seutuh dan sepenuhnya, wajar jika sesekali takut ditinggalkan, tetapi begitulah, hidup juga adalah tentang mencintai dan dicintai, meninggalkan atau ditinggalkan, tetapi tidak lama, sementara, untuk nanti berkumpul kembali dalam keadaan yang lebih baik..
Begitulah, aku mencintai orang-orang yang kucintai karena Allah, seluas dan sedalam yang sulit digambarkan.
19 Mei 2022 | wetiartika
0 notes
wetiartika · 5 months ago
Text
Setiap orang memiliki jalan juangnya masing-masing, dan ada orang baik yang merutinkan nasihat kepadaku; untuk tidak mudah melabeli orang lain berdasarkan sifat atau tampilan yang dimunculkannya. Aku sepakat, menyetujuinya dan memahaminya sebanyak aku meminta diri sendiri untuk merunduk, meminta maaf pun menginsafi, karena pasti terlalu sering begitu mudah menilai orang lain, melukai bahkan tidak jarang membuat orang lain jera bersamaku.
Kedalaman hati seseorang, siapa yang tahu? Kan? Aku tidak tahu bagaimana seseorang bisa bertahan melewati pelik, kekurangan peluk, atau seberapa tabah mengobati luka yang entah kapan menutup kembali.
Pun niatku tidak begitu, siapa yang tega dengan sengaja melukai orang lain?
Ah, menulis ini aku ingin menangis dan begitulah, sesakit itu dilukai orang lain karena mereka tidak tahu juangku, usahaku, pelikku, sakitku. Pun sama, sesakit itu orang lain ketika aku dengan atau tanpa sengaja melabeli mereka. Kalau tidak karena Allah mengizinkan aku dikelilingi orang-orang baik, aku tidak tahu akan jadi apa aku di hari ini. Meskipun, hari ini saja aku merasa tidak cukup baik menjadi manusia.
Rabb..
3 notes · View notes
wetiartika · 5 months ago
Text
Untuk seseorang yang nanti akan mencintaiku sebaik kamu mencintai dirimu sendiri..
Maaf ya, jika perempuan yang kamu percayakan cintamu ini ternyata adalah perempuan biasa-biasa saja.
Perempuanmu ini tidak cantik, tapi semoga dengan berbekal cintamu, parasku cukup untuk membuatmu merasa teduh ketika menghabiskan sisa usia bersamaku.
Perempuanmu ini tidak pintar, sesekali kamu akan sering menghela nafas panjang ketika aku tidak mampu menyamai pembicaraan denganmu sekeras apapun aku berusaha, tetapi semoga kesabaranmu cukup untuk bersetia menjawab setiap tanyaku.
Perempuanmu ini tidak pandai memasak, apalagi secakap masakan buatan ibumu, barangkali kamu akan mengernyit atau menyembunyikan ketidaksukaanmu pada masakanku, tetapi semoga hatimu bisa cukup luas untuk memberi tahu yang perlu kuperbaiki.
Perempuanmu ini tidak memiliki banyak kepunyaan, tidak berasal dari keluarga berkecukupan, semoga denganmu ada ikhtiar yang membuat kita kelak merasa cukup dengan rezeki pemberian Tuhan.
Perempuanmu ini sesekali akan sangat manja dan bertingkah, akan berisik, bersikap melelahkan, pasti membuatmu sebal bahkan tak jarang tidak menyamankanmu. Tetapi, semoga perasaan kita berdua cukup untuk membuat kita menyemangati satu sama lain, menjadi teman hidup yang mau bertumbuh, memperbaiki dan menasihati satu sama lain.
Perempuanmu ini, tidak terlalu pandai ilmu agamanya. Tetapi, semoga Tuhan selalu memberikan kita waktu yang cukup untuk terus merasa butuh untuk belajar.
Untuk seseorang yang kelak kutitipkan hidupku bersamamu.
Maaf ya, jika aku tidak mampu memenuhi ekspektasi yang kamu bangun selama ini, sebelum kita bertemu. Maaf aku tidak sempurna.
Dibalik seluruh kurangku, sifatku, latar belakang, baik dan burukku, aku ingin mencintaimu dengan hal terbaik yang kumiliki, seperti yang kamu lakukan untukku.
Untuk seseorang yang menitipkan perasaannya kepadaku, Terima kasih telah menujuku, memilihku dan mempercayakan hidupmu bersamaku.
Salam hangat,
-wetiartika-
10 notes · View notes
wetiartika · 6 months ago
Text
Ada seorang teman yang pernah mengatakan bahwa cinta pertama seorang laki-laki adalah ibunya. Kalimat yang sama di-aminkan oleh dosen saya dulu.
"Kalau kelak mencari pasangan, masukkanlah dia yang mencintai dan menghormati ibunya sebagai satu dari beberapa kriteriamu.." Demikian kata beliau. Saya yang mendengar nasihat itu, hanya tersenyum, menyemogakan. Sudah hampir lulus saat itu, beberapa teman seangkatan menggaungkan akan menikah tak lama setelah wisuda, barangkali itu menjadi pemantik dosen pembimbing saya tiba-tiba memberikan nasihat itu.
Singkat cerita, di sini saya hari ini, memasuki fase memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengenal saya lebih dekat dan memberikan kesempatan bagi saya sendiri untuk mengenal "orang lain"
Hingga hari ini, saya berharap jika sudah menemukannya, kami akan menjadi tepat bagi satu sama lain. Saya ingin menghargainya, sebagaimana ia menghargai perempuan nomor 1 di hidupnya.
Saya paham betul bahwa membuka hati dan menerima orang lain dalam hidup adalah komitmen untuk menerima segala resiko; tidak akan mudah. Sesekali akan patah, tapi tak jarang menyenangkan dan menenangkan.
Dalam hubungan itu, tentu sesekali akan menemui kesulitan, hubungan apa yang selalu manis? Bisa jadi perasaan suka dan benci itu benar adanya, jaraknya tipis sekali, dan menjalaninya harus berhati-hati dan menggunakan hati :)
Tapi saya berharap, bahwa kelak nantinya, kami akan menyelesaikan kesulitan itu bersama.
Mudah bagi saya untuk menerima orang lain sebelum ini, tetapi saya tidak ingin melakukannya. Sebab saya menunggu orang yang tepat. (Barangkali) kami sudah bertemu. Pertanyaannya adalah, apakah saya adalah orang yang tepat baginya? Apakah saya rumah yang hangat untuknya? Apakah saya adalah perempuan yang meneduhkannya?
Pertanyaan itu, kembali berdasar pada bagaimana ia mencintai ibunya, begitu juga ia mencintai perempuannya nanti. Bagi seorang laki-laki, ibu adalah rumah yang dirindukan, makanan yang tetap lezat sekalipun menunya sederhana, meneduhkan sekalipun di luar dinding ada badai yang menggetarkan jiwa. Pun, jika laki-laki itu sudah datang nantinya, saya tetap tidak akan pernah bisa menyerupai ibunya, setidaknya saya ingin menjadi perempuan yang layak untuk menjadi pasangannya; agar dapat membuat ibunya tenang menerima saya sebagai menantu sekaligus keluarga baru dalam hidup mereka berdua. :)
5 notes · View notes
wetiartika · 6 months ago
Text
Tumblr media Tumblr media Tumblr media Tumblr media Tumblr media Tumblr media
Now this is something I’d watch on tv!
(via)
74K notes · View notes
wetiartika · 6 months ago
Text
Kalau harimu terasa hancur tersebab dosa yang kamu lakukan selama ini, coba deh baca tulisan ini....
Seburuk dan sehina Fir'aun saja, Allah kirimkan dua Nabi untuk dia (Fir'aun) bertaubat, yaitu nabi Musa dan Harun. Bahkan menjelang ajalnya, Allah masih berikan kesempatan untuknya bertaubat, padahal sepanjang hidupnya dihabiskan untuk menyekutukan Allah.
Lantas tidakkah itu sudah cukup menjadi ibrah yang luar biasa untuk kita ambil,
Sebelum ajal akan dan pasti akan menghampiri setiap diri kita,
Mari kerjakan yang kemarin-kemarin belum sempat kita kerjakan,
Mari kita baca yang kemarin-kemarin seringkali kita abaikan,
Lagi-lagi tidak ada kata terlambat,
..............................................................................................................
Masih belum tergerak?
Memangnya apa yang membuatmu masih berat untuk melangkah?
Merasa sudah terlampau banyak dosa? atau apa?
Kalaupun demikian, coba deh lihat betapa baiknya Allah kepada bamba-Nya bahkan yang sudah kelewat batas 'maksiatnya', kata Allah :
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54)
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).
Liat betapa baik dan pemaafnya Allah kepada kita, meskipun sering kali terjebak pada kesalahan-kesalahan sama, diulangi lagi, yang bahkan parahnya malah bertambah dari hari ke hari 😭
Tidakkah kita malu, sudah sebegitu 'tersesat'nya kita di jurang kenestapaan, tetapi rahmat-Nya Allah tidak henti-hentinya kita ambil, tanpa rasa malu dan bersalah sedikitpun?
"Allahummaghfirlana Dzunubana... Ya Allah, ampuni kami ya Allah, betapa sering lalainya hamba-Mu ini....."
Sebagai penutup, saya dulu pernah mendengar nasihat ini, tapi saya lupa darimana sumbernya, kurang lebih seperti ini :
"Allah lebih menyukai pemaksiat yang bertaubat, daripada orang shaleh yang tidak pernah merasa salah."
Demikian semoga menjadi pengingat dan penyemangat buat saya khususnya dan kawan tumblr pada umumnya, yang saya doakan semoga kita semua dimudahkan dalam bertaubat dan diistiqomahkan berada di jalan kebaikan-Nya.
Aamiin yaa Rabbal 'alamin..
204 notes · View notes
wetiartika · 6 months ago
Text
I said, “I love you.”
She said, “May Allah love you.” I smiled. For was there anyone whose love I was in more need of than His?
1K notes · View notes
wetiartika · 7 months ago
Text
Kita butuh perjalanan panjang untuk bisa memahami sesuatu. Sepanjang apa? waktu tak terbatas dan tak terukur, hingga akhirnya kita paham bahwa sesuatu terjadi karena benar terjadi untuk kita, diciptakan, tertakdir dan memang harus kita yang menjalaninya.
Sepanjang perjalanan itu, kita habiskan waktu dengan menerka-nerka, memperkirakan baik dan buruk, sesekali kelelahan karena merasa tak menemukan apapun selain jalan buntu.
Sepanjang perjalanan itu, ada saatnya kita melakukan kesalahan, kita akan tahu sesuatu disebut kesalahan ketika ada alarm yang berdering di kepala, membuat kepala menjadi panas, kita kebingungan akan melakukan apa sebagai langkah pertama mengurai solusi.
Kita seperti itu. Produk dari percobaan, percobaan, percobaan hingga menghasilkan pemahaman, penerimaan, dan pemakluman, bahwa sesuatu harus terjadi, dan memang inilah takdirnya, jawaban serta dampak dari apa yang dilakukan sebelumnya.
Kita adalah segala sesuatu dari sebab dan akibat. Kita adalah akumulasi dari usaha dan doa. Kita adalah akhir dari perjalanan panjang untuk saling menemukan. Kita adalah apa yang telah terjadi di masa lalu dan apa yang akan terjadi di masa depan.
-wetiartika-
0 notes
wetiartika · 7 months ago
Text
Saat menginjak usia dewasa, aku menyadari bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa kubagikan dengan orang lain. Beberapa cerita terkadang perlu disimpan sendiri, untuk diterjemahkan sesuai dengan kapasitas diri. Sebab, hanya aku yang mempunyai jawabannya, tentu saja jika kuberanikan diri bercerita kepada orang lain, aku harus siap patah karena ekspektasi.
Orang-orang yang mengenalku tahu, bahwa aku jarang sekali bercerita. Bukan karena tidak percaya atau meniadakan sosok dekat orang lain di hidupku, aku hanya tidak tahu bagaimana memulainya, maka ketika cerita itu kubagikan kepada orang lain, pertanda bahwa aku sudah kehabisan cara untuk menyimpannya sendiri.
Aku. Butuh. Bantuan.
Aku tahu, hidup di dunia ini tidak bisa melulu sendirian. Seperti kata orang, "Manusia adalah makhluk sosial yang utuh"
Aku sadar, bahwa aku akan selalu menerima-memberi, menyayangi-disayangi, memaklumi-dimaklumi, memahami-dipahami. Serta berbagai pasang kata kerja lainnya yang membuatku terbentuk menjadi manusia utuh yang memiliki hati, perasaan dan empati.
Aku (akan, sudah, ingin) menambah peran baru dalam hidupku. Dan tahu, bahwa untuk menuju peran tersebut, tentu tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa dilewati.
Bismillah.
Aku tahu, kita tahu, meluaskan zona nyaman terhadap lingkup kecil hidup bukan perkara sederhana, tapi aku tahu, sudah saatnya aku menaiki satu anak tangga lagi dalam hidupku.
Aku berharap aku bersiap dan kamu juga. :)
Februari, 2022.
-wetiartika-
3 notes · View notes
wetiartika · 7 months ago
Text
Menikah itu Melelahkan, Mbak..
Ada seorang adik (tingkat saat kuliah dulu) yang bercerita tentang peran barunya sebagai seorang ibu, istri (menantu dan ipar juga).
Disclaimer: cerita ini sudah diizinkan untuk dipublikasikan.
Singkat cerita, dia saat ini sedang berada di situasi rumit, barangkali karena akumulasi dari peran baru dan proses adaptasi dalam pelaksanaan peran tersebut.
"Mbak, menikah itu ternyata melelahkan sekali. Aku yang dulunya bisa bebas berorganisasi, melakukan apapun tanpa perlu merasa ruang gerak terbatas, tanpa perlu khawatir bahwa sesuatu yang kulakukan akan berdampak dan beririsan langsung akibatnya dengan orang lain." Katanya, yang mengaku kerap merasa kebingungan bagaimana menyikapi sikap dan perasaannya saat melaksanakan peran ini.
Dia mengatakan, betapa dia merasa "kebakaran dan dikejar-kejar" saat anaknya rewel. Dia merasa sedih sekali karena sebagai Ibu merasa tidak bisa mengenali anaknya yang menangis kencang. Pun sudah melakukan banyak hal, anaknya tetap menangis. Saya menunggunya bercerita sambil menunggunya mengatur nafas, isak dan emosi yang menggumpal.
"Aku menyesal, Mbak. Dulu ngetawain Mbak yang bilang kalau profesi paling tidak mudah itu adalah Ibu Rumah Tangga," Pecah tangisnya kali ini. Saya ingin memeluknya, menepuk hangat pundaknya, tapi jarak membuat saya hanya bisa menungu tangisnya reda.
Saya memberanikan diri menitipkan sebuah nasihat, pun saya tidak ahli dalam urusan pernikahan. Apalah saya, perempuan belum menikah yang menasehati adiknya yang sudah menjadi ibu dari anak berwajah manis dan menggemaskan.
"Dek, sampai hari ini Mbak belum bakal merubah statement yang kamu tertawakan kemarin, hehehe. Karena urusan rumah tangga itu komplit sekali, di dalamnya kita perempuan berurusan dengan banyak hati, perlu melibatkan dan terlibat dalam banyak hal. Kita, bukan untuk diri kita lagi." Kata Saya.
Sebagai seseorang yang mengurus keponakan, katakanlah saya "cosplay" menjadi "Ibu Rumah Tangga Paruh Waktu".
Jadi saya paham betul, sebenarnya jika ingin diikuti, pekerjaan rumah itu tidak akan pernah ada habisnya. Bahkan ketika kita bangun sejak dini hari pun, pekerjaan akan tetap ada, bertambah dan seperti tiada akhir. Belum lagi urusan logistik, keuangan, perkara listrik, iuran, dan lain-lain. Perempuan Rumah Tangga merangkap menjelma jadi chef, bendahara, housekeeping, alarm, psikolog, ustadzah, dan sebagainya.
"Dan jika semua tanggung jawab dan peran itu dihitung menjadi materi, tentu kita perempuan akan kelelahan, Dek."
Oleh karena itu, Perempuan diberikan Allah hati yang lebih peka, lembut dan jauh di dalamnya memiliki ketegaran dan ketangguhan luar biasa. Salah satu fungsinya adalah untuk melaksanakan peran tersebut dengan senang hati.
"Tidak akan ada imbalan dan nominal yang mampu membayar dan mencukupi perempuan untuk membalas semua peran dan tanggung jawabnya. Tidak juga bisa ditukar peran lain karena peran ini sangat berharga dan penting kedudukannya," Kata saya lagi.
Sehingga, untuk menjalani peran ini, yang dibutuhkan perempuan adalah kepercayaan bahwa Allah Maha Melihat semua hal dari pagi hingga ke pagi lagi atas apa yang dilakukan perempuan untuk rumah tangganya.
"Jadi tidak dengan menghitung materi, tidak diuangkan, sebab yang akan mengganti, membayar dan diberikan imbalan surga dan hujan pahala oleh Allah."
Ada kabar baik yang ditunda Allah untuk disampaikan di dunia sebagian, dan sebagian lainnya di akhirat. Ada juga yang cash dibayar di dunia, tapi jangan-jangan tidak menyisakan apapun di akhirat nanti. Sementara, kita tahu kan bahwa yang kekal itu kehidupan di akhirat?
Maka, semoga semua ibu, calon ibu dan semua perempuan dapat diberikan keluasan hati, ketangguhan jiwa, dan kedekatan tanpa sekat dengan Allah. Kuat-kuat ya, Para Ibu. Juga Terima kasih banyak sudah mampu bertahan, tidak henti belajar dan meluaskan rasa sabar hingga hari ini.
Semoga Allah membalas kelelahan, kesedihan dan warna-warna perasaan dengan pahala yang mengalir sederas hujan. Berkah dan bermanfaat. Aamiin :)
Salam hangat,
-wetiartika-
9 notes · View notes